BANNER

Selasa, 09 April 2013

KISAH POHON APEL


Pada zaman dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang anak laki-laki begitu gemar bermain-main di sekitar pohon apel itu setiap hari. Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan buah apel sepuas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak laki-laki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut.

Waktu berlalu... anak laki-laki itu tumbuh besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan waktunya setiap hari bermain di sekitar pohon apel tersebut. Pada suatu hari dia datang kepada pohon apel itu dengan wajah yang sedih. "Marilah bermain-main di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Aku bukan lagi anak-anak, aku tidak lagi tertarik bermain dengan engkau," jawab remaja itu. "Aku menginginkan sebuah mainan. Aku memerlukan uang untuk membelinya, "tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, "Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan begitu, kau dapat membeli permainan yang kauinginkan." Remaja itu dengan gembiranya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi selepas itu. Pohon apel itu merasa sedih.

Masa berlalu...Suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa gembira. "Marilah bermain-main di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Aku tidak ada waktu untuk bermain. Aku harus bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membangun rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Apakah kau mau menolongku?" Tanya anak itu."

Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang besar ini dan kau buatlah rumah daripadanya. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong kesemua dahan pohon apel itu dan pergi dengan gembiranya. Pohon apel itu pun turut gembira. Tetapi kemudian ia merasa sedih karena remaja itu tidak kembali lagi setelah itu.

Suatu hari yang panas, seorang laki-laki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak laki-laki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak laki-laki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk berlayar. Tetapi aku tidak mempunyai perahu untuk berlayar. Maukah kau menolongku?" tanya laki-laki itu."

Aku tidak mempunyai perahu yang dapat aku berikan kepadamu. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk kau jadikan perahu. Kau akan dapat belayar dengan perahu itu, "kata pohon apel. Laki-laki itu merasa amat gembira dan menebang batang pohon apel itu. Dia kemudian pergi dari situ dengan gembira dan tidak kembali lagi setelahnya. Namun begitu, pada suatu hari, seorang laki-laki yang semakin dimakan usia, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak laki-laki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu."

Maafkan aku. Aku tidak punya apa-apa lagi untuk kuberikan kepadamu. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat perahu. Aku hanya tinggal tunggul dengan akarnya yang hampir mati..." kata pohon apel itu dengan nada pilu."

Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu karena aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak kuat lagi untuk belayar, aku merasa lelah dan ingin istirahat, "jawab laki-laki tua itu."

Jika begitu, istirahatlah di perduku, "kata pohon apel. Lalu laki-laki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu. Mereka berdua menangis karena terharu.

Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan di dalam cerita itu adalah kedua ibu bapak kita. Waktu kita masih kecil, kita senang bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita membutuhkan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita di dalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dalam hidup. Anda mungkin berfikir bahwa anak laki-laki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakekat dari kebanyakan anak-anak masa kini melayani ibu bapak mereka. Maka dari itu hargailah jasa ibu bapak kita dengan memperlakukan keduanya sebaik mungkin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar