Anak adalah anugrah yang
mahal bagi setiap orang tua. Sulit ketika diminta dan tidak bisa ditolak ketika
Allah Swt menghendaki kelahirannya. Kehadirannya adalah sebuah rahasia Sang
Pencipta, walaupun banyak orang berhasil merencanakan kapan anaknya harus lahir
dan kapan tidak melahirkan anak.
Selain sebagai anugrah
dari Yang Kuasa, Allah Sang Penentu, anak diberikan kepada para orang tuanya
sebagai amanah. Untuk dipelihara, dididik dan dibina menjadi anak-anak yang
berkualitas, memiliki kekuatan dan ketahanan sebagai bekal mengarungi hidup di
masa dewasanya. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah
orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang
lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu
hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar” (QS. An Nisaa’ : 9)
Anakpun dapat pula
menjadi cobaan (fitnah) atau bahkan sebagai musuh bagi kedua orang tuanya, bila
anak berkembang tanpa didikan yang baik dan benar. Seperti yang difirmankan
Allah Swt: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah
sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar”
(QS. Al Anfaal: 28). “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara
istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka
berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak
memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang” (QS. At Taghaabun: 14).
Oleh karenanya, setiap
orang tua harus menyadari betul akan amanah ini. Bahwa anak-anak yang
dititipkan Allah kepada kita sesungguhnya harus dididik dan dibina dengan baik
sesuai dengan tatacara pendidikan yang disyariatkan Islam dan dicontohkan oleh
Nabi Muhammad Saw.
Setidaknya ada empat hal
yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam melakukan pendidikan terhadap
anak-anaknya, yaitu:
1. Pendidikan yang
dilakukan harus berpedoman pada prinsip “Memelihara fitrah anak (Al Muhaafadzoh)”.
Maksudnya adalah, segala upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik
anak-anaknya harus didasarkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah
(suci), beriman kepada Islam: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada
Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia
menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang
lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Ar Ruum: 30).
Juga dalam hadits
Rasulullah Saw, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang
tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi". Untuk dapat
memelihara fitrah anak, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:
- Memilihkan teman bermain, yang kita yakini mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya, serta menyeleksi dan mengawasi jenis permainannya.
- Memilihkan lingkungan
yang baik, mengingat lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap
perilaku anak.
- Memilihkan sekolah dan
guru yang baik (Islami) ketika anak mulai memasuki usia sekolah.
2. Pendidikan yang
dilakukan harus diupayakan untuk mengembangkan potensi anak (At Tanmiyyah).
Menurut berbagai penelitian, diakui bahwa anak memiliki potensi yang luar biasa
bila distimulasi dengan baik sejak usia dini, karena perkembangan intelektual anak
dapat mencapai masa keemasannya pada usia 0 sampai 2 tahun. Anak juga memiliki
keingintahuan yang sangat kuat pada usia-usia tersebut, sehingga sangat
memungkinkan untuk memberikan banyak hal di usia dini.
Ada sebuah kisah menarik
di Jepang, Ms. Sakane yang seorang wanita karir, berhasil mengajar anaknya
dengan hasil yang sangat mengejutkan ketika Okane yang baru berusia 3 tahun 5
bulan memiliki IQ 198 dengan cara selalu menyediakan waktu 30 menit sebelum
kerja dan 1 jam sepulang kerja untuk khusus memperkenalkan kepada anaknya
berbagai macam benda dari guntingan-guntingan kertas bergambar yang secara
rutin dia lakukan setiap hari. (sumber: artikel 3 Tahun Pertama Yang
Menentukan: Taufan Surana).
3. Pendidikan yang
dilakukan harus bersifat Mengarahkan (At Taujih). Yaitu mengarahkan anak
kepada kesempurnaan, mengajarinya dengan berbagai aturan diniyah, tidak
menuruti setiap permintaan anak yang kurang baik untuk dirinya baik dimasa
kanak-kanak maupun setelah remaja dan dewasa.
Memanjakan anak dengan
cara menuruti segala permintaannya bukan hanya akan menjadikan anak bagaikan
seorang raja yang titahnya harus selalu dituruti, namun juga akan menjadikan
anak bermental diktator.
4. Pendidikan harus
dilakukan secara bertahap (At Tadarruj). Mendidik anak harus dilakukan
dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, tidak tergesa-gesa ingin segera melihat
hasilnya, namun harus dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit, hingga
anak mengerti dan faham apa yang kita ajarkan. Karena mendidik anak bukanlah
sekedar membalikkan telapak tangan atau membuat foto Polaroid. Pendidikan
adalah sebuah proses yang sangat panjang dan tak berujung.
Terakhir, marilah kita
senantiasa bermohon kepada Alloh Swt agar Allah berkenan memberikan kepada kita
semua, para orang tua, para guru dan pendidik anak-anak dapat mengemban amanah
sebaik-baiknya dan dapat menjadikan anak-anak kita generasi Robbani.
Robbanaa hab lanaa min
azwaajinaa wadzurriyaatinaa qurrota a’yun. Waj’alnaa lil muttaqiina imaamaa (Q.S.
Al Furqaan: 74). Aamiin. (Ya Roob kami, anugerahkanlah kepada kami
istri-istri kami dan keturunan sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah
kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa). Wallahu 'a’lam bishshowaab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar